.

Cerpen : The Seal - Chapter 4 (When Your Guardian Tell His Truth)


Chapter 4 – When Your Guardian Tell His Truth

Spring, March 25th 2012

            “Hmm…” keluhku sambil mengganti tiap channel di televisi.
            “Huh membosankan!!” kesalku lalu mematikan televisi dan pergi ke kamar mencari ponselku.
            “Nah! Ini dia. Kira – kira Aoi-kun sedang apa ya? Apa sebaiknya aku Tanya saja dia? Baiklah aku akan mengirimkan pesan untuknya.” Ucapku lalu segera mengetik pesan dari ponselku.
            Hari ini adalah hari Minggu. Ibu dan adikku Kenichiro pergi ke rumah bibiku di Shibuya. Hanya ada aku dirumah ini sendirian. Ayahku seperti biasa tidak ada dirumah karena dinas diluar kota.
            Jam menunjukkan pukul 10.00 AM. Aku merasa bosan dan akhirnya memutuskan untuk keluar rumah sebentar untuk jalan – jalan. Dengan berpakaian T-shirt lengan pendek dan celana jeans pendek setinggi lutut aku berjalan keluar rumahku. Melewati kebun sayuran yang dirawat oleh tetanggaku dan melewati beberapa blok rumah akhirnya aku sampai di taman kecil yang biasa dikunjungi oleh anak – anak untuk bermain.
            Setibanya disana aku melihat tak seorangpun berkunjung ke taman ini. Aku duduk di kursi taman yang terletak dibawah pohon rindang. Merasakan angin berhembus melewati wajahku dan membuat rambutku yang terurai panjang tertiup angin sejuk.
            “Miaw.. miaw.. miaw..”
            “Hm? Terdengar seperti suara kucing kecil.” Ucapku sambil mencari sumber suara tersebut.
            “Miaww.. miaw.. miaw.. miaw..”
            Aku terus mencari sumber suara kucing itu, dan akhirnya aku melihat sebuah kotak kardus yang tergeletak di pojok taman. Aku segera menghampiri kotak tersebut dan kulihat ada seekor kucing berwarna putih dengan belang abu – abu sedang duduk didalam kotak tersebut dalam keadaan kotor.
            “Aduuh, siapa yang tega melakukan ini?! Seenaknya saja membuang binatang!” ucapku kesal lalu mengangkat kucing itu dengan kedua tanganku.
            “Miaww?”
            “Waah lucunyaaa~ Apakah kau sendirian disini kucing manis?” ucapku sambil melihat wajah lucu kucing itu.
            “Miaww.. miaw.. miaw..”
            “Baiklah aku akan merawatmu. Aku akan terus selalu bersamamu kucing manis..” ucapku lalu membawanya pulang ke rumah.
            Sesampainya dirumah aku segera menuju ke kamar mandi. Aku memandikan kucing itu dengan air hangat dan sabun untuk membersihkan badannya. Setelah memandikan kucing tersebut aku segera mengeringkan badannya dengan handuk lalu mengeringkan bulunya menggunakan hair dryer milikku di kamarku.
            “Waah lucunyaaa aku suka padamu kucing manis!” ucapku lalu mencium kepala kucing itu.
            Aku mengambil ponselku yang tergeletak dikasur. Aku melihat di layar ponselku ternyata tidak ada balasan dari Aoi. Aku pun memutuskan untuk berfoto dengan kucing itu lalu mengirimkan ke Aoi.
            “Hmm, kira – kira nama yang bagus untuk kucing ini apa ya?” ucapku sambil melihat kucing itu yang berusaha naik keatas kasurku.
            “Ah! Aku akan beri nama kau Guree! Karena kau punya belang berwarna abu – abu jadi namamu Guree! Apa kau suka Guree manis??” tanyaku ke Guree yang sedang tiduran dikasurku.
            “Miaw!”
            “Aku yakin kau menyukai nama yang kuberikan.”
            TING – TOONG!
            “Ah? Siapa yang datang kerumah ya?” tanyaku ke diriku lalu pergi keluar dari kamarku menuju pintu depan rumah lalu membukanya.
            “Hai Shiro-chan! Konnichiwa!” sapa Midori yang berdiri di luar pintu rumahku.
            “Konnichiwa Midori-chan! Ayo masuk.” Ucapku lalu mempersilahkan Midori masuk.
            “Ada apa kau kerumahku?”
            “Aku mau menceritakan sesuatu yang baru aku temukan tadi. Aku menemukan sesuatu yang sangat bagus hari ini!” ucap Midori dengan penuh kegembiraan.
            “Baiklah ayo duduk dulu Midori-chan. Kau mau minum apa?” tanyaku lalu duduk disampingnya.
            “Bisakah aku minta es teh? Aku sangat haus karena diluar mataharinya agak panas.” Pinta Midori sambil mengipas lehernya dengan telapak tangan kanannya.
            “Okay, tunggu sebentar ya?” ucapku lalu pergi ke dapur membuatkan es teh untuk kami berdua.
            “Miaaaw..” terdengar suara kucingku yang menuruni tangga dan berlari ke ruang tengah.
            “Ah, Shiro-chan. Kau pelihara kucing sejak kapan?” Tanya Midori sambil melihat Guree melompat ke samping Midori.
            “Baru saja ku pelihara. Aku menemukannya di taman sendirian. Sepertinya ada yang membuangnya.” Ucapku sambil membawa minuman dan meletakkan kedua gelas diatas meja.
            “Haah akhirnyaa. Aku haus!” ucap Midori yang tanpa basa – basi lagi langsung meraih gelas diatas meja dan meminumnya.
            “Oh ya, kau mau cerita apa?” tanyaku lalu duduk disebelah Midori sambil memangku Guree dan mengelusnya.
            “Oh iya! Ini aku menemukan kalung ini di dekat sungai belakang bukit. Bagus bukan?” ucapnya sambil memegang kalung emerald berwarna hijau.
            “Waah cantiknyaa. Mungkin ini punya seseorang yang terjatuh. Kau harus mengembalikannya.”
            “Didekat sungai tidak ada seorang pun yang ada disana. Aku menemukannya ketika aku sedang berjalan – jalan didalam hutan bukit lalu sampai ke pinggir sungai. Aku melihat benda yang bercahaya hijau dan ternyata itu adalah kalung ini!”
            “Tidak biasanya kau berjalan – jalan ke hutan bukit sampai ke pinggir sungai. Biasanya kau selalu dirumah atau berbelanja sendirian di pusat perbelanjaan.”
            “Aku juga tidak tahu. Entah kenapa aku merasa ingin pergi ke sungai. Hei cocok tidak denganku?” Tanya Midori sambil memakai kalung tersebut.
            “Wah iya. Cocok sekali denganmu. Tapi kalau ada yang mencari kalung itu kau harus segera mengmbalikannya ya?”
            “Iyaa baiklah. Kalau tidak ada yang mencari bagaimana?”
            “Aku tidak tahu. Mungkin kau harus menyimpannya sampai pemilik kalung itu mencari dan bertemu denganmu.”
            “Okay, terimakasih atas saranmu Shiro-chan! Kau memang sahabat terbaikku!” ucapnya lalu memelukku.
            “Iya sama – sama. Kita kan teman jadi harus saling tolong-menolong hahaha.” Ucapku.
            Aku dan Midori menghabiskan waktu bersama dengan bermain bersama Guree kucing peliharaanku yang baru saja ku pelihara. Hingga jam menunjukkan pukul 1.00 pm Midori pamit pulang karena ibunya menelpon untuk ikut berbelanja ke mall.
            “Aku pulang dulu ya Shiro-chan! Sampai jumpa besok di sekolah! Dadaah Shiro-chan dan Guree!” pamitnya lalu pergi keluar meninggalkan kami berdua.
            “Jaa Midori-chan!” ucapku sambil melambaikan tanganku keluar rumah.
            “Yaah, kita sendiri lagi Guree-chan..” keluhku sambil menggendong Guree masuk kedalam rumah dan menutup pintu depan rumah.
            Aku menurunkan Guree diatas sofa sementara aku membersihkan bekas minuman tadi di dapur. Selesai dengan mencuci gelas aku membawa Guree ke kamarku lalu kami berdua tiduran diatas kasur. Aku mengambil ponselku yang ada disamping gulingku, berharap Aoi membalas pesanku.
            Ternyata dilayar ponselku ada pesan masuk dan itu dari Aoi. Aku segera membacanya pesan dari Aoi yang memintaku untuk ke rumahnya jika aku merasa bosan.
            “Guree~ ayo kita pergi kerumah Aoi-kun!” ajakku ke kucing itu lalu menggendongnya.
            “Miaw!” ucap kucing itu seperti mengatakan ‘iya’ kepadaku.
            Akhirnya aku segera bersiap kerumah Aoi dengan menggendong Guree lalu pergi keluar rumah mengunci pintu rumahku. Aku berlari kerumah Aoi yang tidak jauh dari rumahku. Sampai dirumah Aoi aku segera mengetuk pintu rumah Aoi dan pintu itu segera terbuka dan terlihat Aoi yang agak terkejut melihatku membawa Guree.
            “Konnichiwa Aoi-kun!” ucap salamku sambil menggendong Guree.
            “Uh, Konnichiwa. Ini kucing yang kau temukan itu?” Tanya Aoi sambil melihat Guree.
            “Iya. Lucu kan?” tanyaku sambil menyodorkan Guree di depan wajah Aoi.
            “Ah, hahaha. I-iya. Ayo masuk” ucap Aoi sambil mempersilahkan aku masuk kedalam rumahnya dan aku langsung masuk kedalam rumahnya, melepaskan Guree diruang tengahnya Aoi.
            “Kau mau makan siang? Aku sedang masak okonomiyaki untuk makan siang.” Ucapnya lalu memegang spatula yang tadinya terselip di pinggangnya.
            “Boleh. Kalau begitu aku akan bantu. Boleh ya?” pintaku.
            “Uh jangan. Lebih baik kau diam saja bermain dengan Guree.”
            “Ayolaah, boleh ya aku membantumu?” pintaku lagi yang kali ini sambil menarik lengan Aoi kedapurnya.
            “Hm, baiklah tapi kau hanya menyajikan makanan saja ya?”
            “Huh, curang! Baiklah.”
            Akhirnya Aoi mengijinkanku untuk membantunya memasak makan siang. Aku menyiapkan kedua piring diatas meja makan sementara aoi memasak okonomiyaki untuk kamu berdua.
            “Hei, kucing itu sudah diberi makan belum?” Tanya Aoi sambil memasak.
            “Hmm sepertinya belum. Soalnya ketika aku menemukannya aku langsung memandikannya dan bermain bersamanya.” Jawabku dengan wajah yang polos.
            “Kalau memelihara kucing kau harus merawatnya sungguh – sungguh. Bukan mengajaknya main terus.” Ucap Aoi menasihatiku sambil meletakkan kedua okonomiyaki di kedua piring yang telah kusiapkan.
            “Baiklah, aku minta maaf. Dirumahku tidak ada ikan jadi aku tidak memberinya makan siang.” Ucapku sambil meminta maaf.
            Aoi membuka lemari dapurnya dan mengeluarkan kotak makanan kucing dan memberikannya padaku.
            “Ini. Berikan ini untuk kucingmu. Taruh dipiring dan berikan padanya.”
            “Namanya Guree. Lucu kan?” tanyaku sambil menuangkan makanan kucing di piring.
            “Kenapa kau namakan Guree?” Tanya Aoi sambil menuangkan jus jeruk kedalam dua gelas.
            “Karena Guree memiliki belang berwarna abu – abu ditubuhnya. Guree-chaaann!!” panggilku supaya Guree menghampiriku di dapur.
            “Miaw! Miaw..” ucap Guree sambil berlari kecil menghampiriku.
            “Ayo dimakan. Ini makanan khusus untukmu. Aoi-kun yang memberikannya. Habiskan ya?” ucapku sambil mengelus kepala Guree lalu duduk di kursi samping Aoi.
            Kami berdua menyantap makan siang kami bersama. Semuanya penuh canda dan gurau walaupun Aoi sedikit jarang tertawa. Hanya senyumnya yang tipis ia tampakkan padaku dan sesekali ia tertawa kecil dihadapanku.
            Setelah makan siang, kami pun bermain kartu bersama. Bosan bermain kartu, aku mengajak Aoi bermain bersamaku dan Guree. Puas bermain aku pun tidur di sofa bersama Guree dipelukanku.
            “Hm? Tidur juga dia.” Ucap Aoi sambil mengusap kepala Shiro lalu dia pergi kekamarnya mengambil selimut dan menyelimuti Shiro.
            “Aku rasa kau membutuhkan ini. Oyasuminnasai.” Ucap Aoi lalu ia duduk disebelah Shiro yang sedang tertidur pulas.
            Aku terbangun dengan mata yang masih setengah mengantuk. Kemudian aku mengucek kedua mataku dan membuka mataku lalu terlihat wajah Aoi dengan jelas sedang tertidur menunduk menghadapku.
            “Tidaaaaaaakkkk!!!” teriakku sekeras mungkin membangunkan Aoi secara tidak sengaja dan bangun lalu duduk disamping Aoi.
            “Ah! Ada apa?!” Tanya Aoi yang kaget dari tidurnya.
            “Kau apakan diriku sampai aku tertidur di pahamu?!” tanyaku dengan wajah memerah dan agak kesal.
            “Aku tidak berbuat apapun. Kau tadi tertidur pulas dan tiba – tiba kau pindah untuk tidur diatas pahaku.” Ucap Aoi menjelaskan semuanya.
            “Benarkah?” tanyaku dengan wajah yang makin memerah.
            “Ya.” Ucap Aoi singkat.
            Aku melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 5 sore. Aku menggendong Guree yang sedang tertidur lalu terbangun karena aku menggendongnya.
            “Lebih baik aku pulang. Ini sudah sore.” Ucapku sambil tergesa – gesa.
            “Tunggu. Biar aku antarkan kau sampai rumah.” Kata Aoi menawarkan bantuannya sambil memegang tanganku.
            “Baiklah..” ucapku dengan nada pelan.
            Akhirnya Aoi mengantarkanku pulang sampai rumah dan setibanya didepan rumah ponselku berbunyi ternyata itu telpon dari ibuku. Aku segera mengangkat telepon dari ibuku. Aku agak sedih karena ibuku mengatakan untuk pulang besok pagi. Aoi juga tampaknya mengkhawatirkanku. Selesai berbicara dengan ibuku lewat telepon aku mengakhirinya dan memasukkan kembali ponselku di kantong celana pendekku.
            “Ada apa?” Tanya Aoi.
            “Ibuku akan pulang esok pagi. Ibuku terlambat naik kereta.”
            “Jadi, kau akan sendirian lagi dirumahmu?”
            “Ya, seperti itu lah.”
            “Bolehkah aku menginap dirumahmu. Aku akan menemanimu sampai besok.”
            “Tidak. Itu tidak perlu. Aku sudah banyak merepotkanmu.”
            “Aku akan melindungimu.”
            “Tidak perlu! Aku bisa sendiri!”
            “Aku akan menemanimu sampai ibumu pulang.”
            “Tidak! Kau tidak boleh!”
            “Boleh! Aku ini Guardianmu jadi aku harus melindungimu!” ucap Aoi bersikeras.
            “Tidak! Kau bukan siapapun!”
            “Aku Guardianmu dan kau adalah Tenshiku!”
            “Aku tidak peduli!”
            “Kau harus peduli tentang itu!”
            “Kenapa aku harus peduli?!!”
            “Karena kau adalah Tenshi yang penting untukku!”
            “Seberapa penting diriku untukmu!!”
            “Kau sangat penting karena aku menyukaimu!”
            “…”
            “…”
            Kami berdua terdiam. Aoi yang tidak sengaja berbicara jujur langsung berbalik membelakangiku. Aku pun masih kaget dan tidak percaya apa yang diucapkannya. Aku hanya terperangah melihatnya walaupun dia membelakangiku.
            “Aku akan pulang..” ucap Aoi pelan.
            Aku menahan Aoi dengan menarik lengan bajunya dengan kuat sampai Aoi mundur selangkah ke hadapanku.
            “Ada apa lagi? Bukankah kau menginginkanku pergi?”
            “Apa yang kau ucapkan tadi itu benar? Apa kau jujur?” tanyaku sambil tertunduk.
            “Ya.” Jawab Aoi dengan singkat.
            “Kau.. boleh menginap dirumahku sampai ibuku pulang. Aku sendirian, aku takut.”
            “Bukankah kau bisa melakukan segala halnya sendiri?”
            “Tidak. Aku tidak bisa. Aku takut sendirian. Ku mohon..”
            “Baiklah.”
            “Ayo masuk. Diluar sudah terasa dingin.” Ajakku lalu aku masuk kedalam rumahku diikuti Aoi.
            Akhirnya Aoi menginap dirumahku dan dia membuatkanku makan malam dan membersihkan segalanya. Ketika malam tiba aku menyuruh Aoi untuk tidur dikamar adikku tapi dia sudah tertidur diruang tengah. Aku mengambil selimut kemudian menyelimutinya.

            “Oyasuminnasai.. Aoi-kun.” Ucapku lalu aku pergi ke kamarku dan tidur bersama Guree yang sudah tidur terlebih dahulu diatas kasurku.

Cerpen : The Seal - Chapter 3 (Another Guardian)


Chapter 3 – Another Guardian

Spring, March 8th 2012

            “Shiro onee-chaaan!!!” teriak Kenichiro sambil menggedor – gedor pintu kamarku. Aku pun terbangun dan membuka pintu kamarku dan melihat Kenichiro masih teriak – teriak.

            “Hei hei. Sudah kakak sudah bangun kok.” Ucapku masih setengah mengantuk dan mengucek mataku.

            “Cepatlah turun kebawah kak. Aoi onii-chan sedang membuatkan sarapan untuk kita semua!” ucap Kenichiro dengan riang lalu Ia turun menuruni tangga dan berlari kedapur.

            “Ah? H-hei tunggu… Ah sudahlah anak itu cepat sekali larinya. Tapi sejak kapan Aoi bisa memasak? Dia kan laki – laki, mana bisa memasak? Ah mungkin dia Hanya memasak makanan yang ringan saja.” Ucapku sambil tertawa kecil lalu mengambil handuk dan membereskan diriku.

            Setelah mandi dan merapihkan kasurku akupun turun kebawah dengan membawa tas ku. Ketika mendengar suara tawa didapur aku menghentikan langkahku untuk masuk ke dapur dan mendengarkan obrolan ibuku bersama mereka.

            “Wah ternyata hebat juga ya Aoi-kun. Kamu pandai memasak juga.” Puji ibuku

            “Terimakasih, aku sudah terbiasa.” Ucap Aoi.

            “Kalau begitu Aoi onii-chan tinggal bersama kita saja bu. Biar aku punya teman dirumah!” ucap Kenichiro bersemangat.

            ‘Baru hari pertama Aoi datang kerumahku Ia sudah membawa kebahagiaan tersendiri untuk ibu dan adikku. Sebenarnya apa yang direncanakannya?’ pikirku lalu masuk kedapur.

            “Ah, selamat pagi Shiro-chan.” Sapa ibuku dengan ramah seperti biasanya.

            “Selamat pagi bu.” Balasku singkat dan duduk ditempatku.

            “Silahkan dimakan.” Ucap Aoi sambil memberiku sepiring pancake yang dituang saus coklat dihadapanku.

            “Terimakasih, Ishizaki-san. Hmm sepertinya enak. Apa kau juga seorang chef?” tanyaku sambil memujinya. Tapi Aoi hanya terdiam saja dan menikmati sepiring pancake miliknya.

            Setelah beberapa menit berlalu kami akhirnya selesai dengan sarapan kami dan Kenichiro pun sudah berangkat sekolah terlebih dahulu. Aku juga sudah bersiap – siap lalu berpamitan dengan ibuku.

            “Ibu, aku berangkat dulu yaa?” ucapku kepada ibuku.

            “Kalau begitu aku akan mengantarkanmu.” Ucap Aoi menawarkan dirinya untuk mengantarkanku.

            “Huh? Kau tidak sekolah ditempatmu?” tanyaku.

            “Mulai hari senin besok aku akan bersekolah ditempatmu. Aku—“

            “Aoi-kun akan bersekolah disekolahmu. Kasihan kan dia harus kembali ke sekolahnya yang dulu. Itu lumayan jauh dari sini.” Potong ibuku.

            “T-tapi bu orang tuanya mungkin akan mengkhawatirkannya bu..” ucapku agak terbata – bata sedikit.

            “Aoi-kun bilang dia akan pindah ke daerah didekat sini karena ayahnya sedang bertugas di perkotaan. Lagipula Aoi-kun akan sendirian jika dia tinggal disana dan bersekolah disana.” Ucap ibuku dengan wajah yang datar.

            ‘Ada apa ini? Kenapa ibuku jadi seperti ini?’ pikirku dengan wajah penuh dengan keheranan.

            “Baiklah bu, aku berangkat dulu.” Ucapku lalu berangkat keluar rumah diikuti Aoi.

            Setibanya diperjalanan kepalaku penuh dengan berbagai pertanyaan yang ingin ku ajukan kepada Aoi. Karena kepalaku dipenuhi dengan berbagai pertanyaan akupun kesal dengan diriku sendiri sambil mengacak – acak poni rambutku.

            “Kau kenapa?” Tanya Aoi.

            “Kau apakan ibuku?! Kenapa ibuku jadi lebih perhatian padamu?!” tanyaku kesal sambil memukul bahunya.

            “Hm, sudah kuduga kau akan menyadarinya. Maaf, aku menghipnotis ibumu supaya ibumu bisa mengijinkanku tinggal bersamamu.” Jawab Aoi yang kali ini dia berkata padaku dengan nada yang pelan.

            “Cih! Aku benci kau Aoi-san!” teriakku kepadanya lalu berlari menjauhinya menuju sekolahku.

            Akupun terus berlari sambil menangis menuju sekolahku dan aku berhenti disebuah taman kecil lalu duduk disebuah ayunan. Aku tidak memikirkan apakah aku akan terlambat sekolah atau tidak. Aku hanya tertunduk sambil duduk di ayunan. Ketika itu seseorang berdiri didepanku dan aku langsung mengangkat kepalaku. Itu adalah Negishi-san.

            “Negishi-san..” ucapku pelan lalu aku langsung mengusap kedua pipiku yang basah.

            “Sedang apa kau disini?” Tanya Negishi-san lalu jongkok didepanku.

            “Aku tidak apa – apa.” Jawabku lalu mengalihkan wajahku darinya.

            Tiba – tiba Negishi mengeluarkan sapu tangan dari kantongnya lalu mengusap pipiku dan mataku sehingga membuatku terkejut.

            “A-apa yang kau lakukan?!” ucapku agak terkejut.

            “Aku hanya mengusap air matamu. Ayo kesekolah, nanti terlambat.” Ajaknya lalu memegang tanganku dan berdiri. Aku ikut berdiri dan mengikuti jalannya.

            “Negishi-san..” panggilku pelan sambil tertunduk.

            “Ya? Ada apa?” Tanya Negishi sambil tersenyum kepadaku.

            “Bisakah kau melepaskan tanganmu dari tanganku?” pintaku.

            “Ah! Maaf maaf.” Ucapnya meminta maaf kemudian Ia melepaskan tangannya dariku.

            “Terimakasih.” Ucapku dengan nada datar.

            “Ya, sama – sama. Aku Hanya ingin membantumu saja. Kau sedang ada masalah ya?” Tanya Negishi.

            “Apa aku perlu memberitahukan masalahku padamu?” tanyaku kembali.

            “Okay, aku tidak memaksamu untuk memberitahukan masalahmu padaku.” Ucapnya dengan ramah.

            Gerbang sekolah sudah terlihat dan aku segera meninggalkan Negishi-san untuk segera mengganti sepatuku lalu pergi ke kelasku. Ketika sampai dikelas aku melihat Midori yang sedang menungguku.

            “Selamat pagi Midori-chan.” Sapaku sambil melambaikan tanganku ke arahnya.

            “Pagi, Shiro-chan.” Sapanya dengan singkat.

            “Midori-chan? Ada apa denganmu?” tanyaku lalu duduk ditempatku.

            “Aku bermimpi aneh semalam.” Ucapnya sambil memandangku.

            “Mimpi seperti apa?” tanyaku dengan penasaran.

            “Aku bermimpi Negishi-san itu adalah benar – benar pangeranku. Dia datang dengan sayap dan menjemputku.” Ucapnya dengan wajah yang langsung berubah drastis menjadi sangat senang.

            “Duh, kau ini membuatku khawatir saja. Ku kira kau bermimpi dikejar – kejar hantu.” Ucapku sambil tertawa kecil.

            “Aaah Shiro-chan aku tidak bermimpi seperti ituu.” Ucapnya dengan wajah cemberut.

            “Hehehe.. maaf aku hanya bercanda. Hei, Ayaka-sensei datang!” ucapku mengejutkan Midori dan Ia langsung berbalik ke mejanya.

            Setelah mengikuti pelajaran yang diberikan Ayaka-sensei, jam istirahat berdentang. Aku membawa kotak bekalku lalu membeli sekaleng minuman di mesin minuman dan membawanya ke atap sekolah.

            “Hmm.. sejuknyaa..” sambil duduk di kursi sudut atap sekolah dan meletakkan bekalku lalu membuka minuman kalengku. Aku membuka kotak bekalku dan kulihat ada 6 potong sushi dengan tuna dan saladnya.

            “Ini pasti buatan Aoi-san..” keluhku lalu menutup kotak bekalku.

            “Tidak mau dimakan?” ucap suara yang tidak asing ditelingaku. Lalu kulihat disampingku sudah ada Aoi duduk dengan kedua tangannya masuk ke kantong jaketnya.

            “…” aku kaget kemudian terdiam lalu minum minuman kalengku.

            “Aku sudah melepaskan ibumu dari hipnotisku.” Ucap Aoi.

            “Kenapa kau datang kesini?” tanyaku agak ketus.

            “Aku khawatir akan terjadi sesuatu denganmu.” Ucapnya.

            “Aku tidak butuh diikuti olehmu. Aku bisa menjaga diriku sendiri.”

            Tiba – tiba seseorang membuka pintu atap dan keluarlah Negishi-san lalu ia melihat kami berdua.

            “Shiro? Sedang apa kau bersama orang lain disini? Ini kan masih lingkungan sekolah.” Ucapnya sambil mendekati kami.

            “Ah! Ini bukan apa – apa kok. Aku tidak melakukan apa – apa dengan orang ini!” bela diriku dengan agak panik karena Negishi-san terus memandangku.

            “Hey sapphire, kenapa kau ada disini? Kenapa kau tidak menjaga Tenshimu?” ucapnya dengan nada yang meremehkan Aoi.

            ‘Sapphire? Siapa sebenarnya Aoi?’ pikirku sambil menatap Aoi yang selalu bersikap datar.
            “Ini bukan urusanmu.” Ucapnya lalu ia berdiri menghadapi Negishi-san.

            “Oh, apakah Shiro itu adalah Tenshimu? Sangat protective.” Ucap Negishi sambil memberikan bertepuk tangan dengan pelan.

            “…” Aoi hanya terdiam dan terus memandang Negishi yang mengejeknya.

            “Sudahlah Negishi-san tidak usah mencari keributan!” ketusku lalu akupun pergi dari atap sekolah dengan membawa bekalku yang belum ku sentuh.

            “Shiro! Hey hey! Tunggu!” teriak Negishi-san sambil mengejarku dan memegang tanganku.

            “Lepaskan!” teriakku sambil menarik tanganku lalu pergi meninggalkan Negishi-san.

            Setibanya dikelas aku bertemu Midori yang sedang menungguku ditempatnya.

            “Kau dari mana saja Shiro-chan?” Tanya Midori.

            “Aku baru dari atap.” Sambil memasukkan kembali kotak bekalku kedalam tasku.

            “Ada apa denganmu, Shiro-chan?” Tanya Midori sambil melihatku khawatir.

            “Ah, aku tidak apa – apa. Aku hanya tidak bernafsu untuk makan lagi.” Keluhku lalu mengeluarkan buku catatanku untuk mengikuti pelajaran berikutnya.

            “Jadi kau tidak makan bekalmu?” Tanya lagi Midori kepadaku.

            “Hanya sedikit.”

            “Hmm” sambil menunjukkan wajah khawatirnya padaku.

            Pelajaran kembali dimulai dan kali ini aku mencoba serius untuk memahami pelajaran ini sampai bel pulang sekolah berdentang.

            “Shiro-chan ayo pulang?” ajak Midori.

            “Aku nanti saja, aku ingin sendirian dulu.” Ucapku dengan nada yang agak pelan.

            “Okay, jaga dirimu baik – baik. Aku pulang duluan yaa? Ja matta nee..”

            “Jaa…” sambil melambaikan tanganku.

            Tak lama kemudian Negishi-san masuk kedalam kelasku dan menyapaku dengan wajah ramahnya.

            “Selamat siang Shiro-chan” sapa Negishi-san lalu duduk dikursi sebelahku.

            “Selamat siang juga.. Ada perlu apa?”

            “Ah tidak apa – apa. Aku hanya ingin berada disini saja. Kau tidak mengikuti kegiatan ekstrakurikuler?” Tanya Negishi-san sambil menatapku.

            “Tidak. Aku tidak begitu tertarik.” Ucapku kemudian memalingkan wajahku darinya dan menatap keluar jendela.

            “Hmm, oke aku rasa lebih baik aku mengakhiri perbincangan ini. Jaa” ucapnya dan berjalan menuju keluar kelas. Ketika sampai didepan pintu kelas tiba – tiba muncul lah Demon yang menyerang Negishi-san hingga terpental keluar jendela kelas.

PRAANGGG!!!

            “Kehehehe.. disini ternyata kau Tenshi putih. Sudah lama kami mencarimu!” ucap demon itu lalu berjalan mendekatiku sambil mengeluarkan tongkat berwarna merah di tangan kanannya.

            Aku merasa sangat ketakutan sehingga aku berdiri dan pergi ke pojok ruangan kelas lalu berteriak ketika demon itu mengayunkan tongkatnya kearahku.

            “Siapa saja tolong akuuu!!!!” teriakku sambil memejamkan mataku kuat – kuat.

            DUAKKK!!!

            BRUKK!!

            Aku langsung membuka mataku dan melihat demon itu jatuh seperti tertendang oleh seseorang. Dan orang yang menendang demon itu adalah Negishi-san.

            “Aku tidak akan membiarkanmu menyentuh Shiro! Light Gun!” ucapnya sambil mengangkat tangan kirinya keatas dan muncul senjata pistol dengan aura ungu kehitaman yang menyelimuti pistol tersebut.

            “Cih! Kau kira aku akan kalah dengan Guardian sepertimu hah??! Tidak akaan!!” ucap Demon tersebut lalu berkali – kali mengayunkan tongkatnya ke Negishi-san, sementara Negishi-san hanya menangkis serangan bertubi – tubi dari demon itu dengan menyilangkan kedua tangannya.

            ‘Negishi-san adalah Guardian??! Tidak mungkin! Bagaimana bisa Negishi-san menjadi seorang Guardian?!’ pikirku.

            Tiba – tiba aku teringat peluit yang diberikan Aoi. Langsung saja kuraih tas yang ada diatas mejaku dan mencari peluit tersebut, tanpa berpikir panjang aku segera meniup peluit itu sekeras mungkin.

            Seketika itu juga Negishi-san langsung menghampiriku dan menggendongku yang sedang membawa tas ku lalu berlari dari dalam kelas menuju atap sekolah.

            “Negishi-san!! Turunkan akuu!!” teriakku sambil meronta supaya Negishi-san mau menurunkan aku.

            “Tidak ada waktu lagi! Demon itu terlalu kuat!” ucap Negishi-san sambil berlari menaiki tangga dan menggendongku lalu sesekali menembakkan pelurunya kebelakang untuk menahan kejaran Demon tersebut.

            Setibanya di atap sekolah aku melihat Aoi sedang berdiri disana dengan senjata Angel Swordnya.”

            “Aoi-san, kau datang tepat waktu! Ada Demon yang mengejarku!” ucapku ketakutan lalu berlindung dibelakang Aoi dan Negishi-san.

            “Kau datang juga rupanya, Sapphire. Demon yang mengincar Shiro kali ini adalah Demon level 2.” Ucap Negishi-san sambil mengisi pelurunya kembali.

            “Kau tidak cocok bertarung dengan Demon itu dalam jarak yang sangat dekat. Aku akan menghadapinya dengan pertarungan jarak dekat. Kau bisa gunakan sayapmu untuk menembaknya dari jauh.” Perintah Aoi lalu ia bersiap dengan posisi bertarungnya.

            “Tch! Aku sebenarnya tidak suka diperintah. Tapi apa yang kau katakan ada benarnya juga. Aku akan mengikuti cara bertarungmu, Sapphire.” Sambil bersiap dengan posisinya.

            Tidak lama kemudian Demon itu datang dihadapan kami dengan wujud yang agak berantakan berkat peluru yang ditembakkan oleh Negishi-san.

            “Ada satu Guardian lagi rupanya. Ini akan membuat pertarungan semakin menarik, kyahahaha!! Dan kau Guardian ungu! Kau harus membayar pakaianku yang rusak ini!!” ucap Demon itu kesal.

            “Shiro, tetaplah disini. Aku akan melindungimu, Holy Shield level 2!” ucap Aoi dan terbentuklah sebuah gelembung yang sangat keras dan transparan melindungiku.

            “Aoi, berhati – hatilah…” ucapku dengan wajah yang khawatir dengannya.

            “Sudah cukup obrolannya! Hadapilah akuu!! Hiyaahhh!!!” ucap Demon itu lalu menyerang Aoi yang kemudian Aoi ikut menyerang Demon tersebut.

            “Wing Heaven!” teriak Negishi-san lalu keluarlah sepasang sayap putih dari punggungnya kemudian ia langsung terbang ke atas dan menunggu kesempatan untuk menembak Demon tersebut.

            Aoi dan Demon tersebut masih terlibat pertarungan sengit. Aoi mengayunkan pedangnya ke Demon tersebut tetapi berhasil ditahan oleh tongkat Demon itu.

            “Cih! Kau cukup kuat sekali! Aku tidak suka pertarungan berimbang seperti ini!” teriak Demon lalu memperkuat pertahanannya.

            “Aku juga tidak suka seperti ini. Angel Sword Max Power!” ucap Aoi dan kali ini Aoi berhasil mematahkan tongkat Demon itu sehingga demon tersebut terpental jatuh dari atap gedung sekolah dengan luka tebasan pedang di dada Demon itu.

            “Sekarang Murasaki!!” teriak Aoi pada Murasaki memberikan aba – aba.

            “Baiklah, mati kau demon sampah! Flame Shoot!!” ucap Negishi-san yang masih terbang dan menembakkan peluru berapinya ke arah demon yang jatuh itu dan mengenai tepat sasaran.

            “Aaaaarrrgghh!! Aku akan kembali lagi!!” teriak demon itu lalu jatuh ke tanah dengan tubuh yang hancur menjadi debu.

            Kemudian gelembung yang melindungiku menghilang dan aku segera berlari memeluk Aoi sambil menangis.

            “A-aku minta maaf karena sudah bersikap kasar denganmu hari ini.” Ucapku dengan penuh penyesalan dan aku merasakan tangan Aoi menyentuh kepalaku.

            “Sepertinya Tenshimu menyukaimu, Sapphire.” Ucap Negishi-san sambil bertolak pinggang melihat kami berdua.

            Setelah kejadian itu kami bertiga duduk di kursi atap sekolah dan mendengarkan penjelasan Negishi-san tentang dirinya.

            “Yah mau bagaimana lagi, aku sudah terpilih menjadi seorang Holy Black Guardian. Aku juga sudah sering bertemu beberapa demon.” Ucap Negishi-san.

            “Lalu kemana Tenshimu? Bukankah seorang Guardian mempunyai satu Tenshi yang harus dilindunginya?” tanyaku kembali.

            “Aku belum menemukan Tenshi yang ku cari. Mungkin seseorang belum terlalu menunjukkan jati dirinya sebagai Tenshi.” Jawab Negishi-san

            “Bagaimana kau menunjukkan jati dirimu sebagai seorang Tenshi?” Tanya Negishi-san.

            “Sebelumnya aku bermimpi tentang seseorang yang datang melindungiku, lalu aku bertemu Aoi keesokan harinya.” Jawabku sambil mengikat rambutku dengan pita dua lonceng kecil.

            “Ah pita dengan lonceng itu seperti yang pernah dipakai The Great Tenshi!” Seru Negishi-san.

            “Benarkah? Ini diberikan oleh ayahku di ulang tahunku yang ke-15.” Ucapku yang tambah heran.

            “Hmm Shiro? Kau tahu ini jam berapa?” Tanya Aoi.

            “Ah iya sudah sore, aku takut ibuku mengkhawatirkanku. Aoi-kun? Ayo pulang?” ajakku lalu menarik tangannya.

            “Wing heaven…” ucap Aoi dan tiba – tiba muncul sayap dari punggung Aoi berwarna biru langit yang transparan.

            “Aoi-kun.. kau juga punya sayap?” tanyaku sambil terkesima dengan sepasang sayap Aoi yang indah.

            “Semua Guardian bisa terbang. Tapi ada beberapa yang tidak memiliki sayap sama seperti para Demon. Suatu saat nanti jika kau sudah mengetahui kekuatanmu kau juga bisa memiliki sayap.” Kata Aoi lalu ia menggenggam tanganku.

            “Cih, seperti biasa. Kau selalu mempunyai kemampuan charm yang dapat menarik perhatian perempuan.” Ucap Negishi-san iri.

            “Sayap Negishi-san juga bagus kok.” Pujiku untuk menghibur Negishi-san.

            “Jangan panggil aku Negishi-san lagi. Panggil saja Murasaki-kun.” Pintanya dengan wajah senyumnya.

            “Ah aku tidak sopan kalau memanggilmu seperti itu. Aku akan panggil Murasaki-san saja. Sudah ya aku mau pulang dulu.” Ucapku lalu berdiri didekat Aoi, dan Aoi langsung menggendongku dengan hati – hati.

            “Jaa ne~ Murasaki-saaann!!” ucapku sambil terbang dibawa Aoi dan melambaikan tanganku ke arah Murasaki-san.

            Ketika sampai didepan rumah, Aoi menurunkanku dan sayapnya langsung hilang seketika dengan indahnya.

            “Kau tidak mau tinggal bersama kami?” tanyaku yang kemudian tertunduk.

            “Aku sudah membeli rumah di dekat sini. Jadi aku tidak perlu mengkhawatirkanmu. Kau masih menyimpan peluit yang kuberikan?” Tanya Aoi.

            “Ya, aku masih menyimpannya. Umm, Aoi-kun?”

            “Ya? Ada apa?” tanyanya.

            “Apakah aku boleh berkunjung kerumahmu?” Tanya diriku dengan wajah yang masih tertunduk.

            Kemudian Aoi menyentuh daguku dan menaikkan wajahku kemudian tersenyum untuk yang pertama kalinya.

            “Ya, kau boleh berkunjung kapanpun.” Ucapnya sambil masih tersenyum.

            “Kau.. tersenyum, Aoi-kun.” Ucapku dengan penuh keheranan.

            “Uh? Maaf. Apakah senyumku terlihat aneh?” tanyanya dengan nada datar.

            “Tidak. Aku suka kok.” Ucapku sambil tersenyum lebar.

            Bersamaan dengan canda tawa kami, ibuku membuka pintu dan keluar dari rumah.

            “Shiro-chan, kamu sudah pulang rupanya. Ayo ajak Aoi-kun masuk bersama.” Ajak ibuku.

            “Tidak, terimakasih. Aku akan kembali ke rumahku. Aku sudah memiliki rumah disekitar sini.” Tolak Aoi dengan lembut kepada ibuku.

            “Baiklah, aku masuk kedalam rumah dulu ya. Ja, matta ne Aoi-kun..” sambil melambaikan tangan dan masuk kedalam rumah bersama ibuku.

            ‘Aku yakin suatu saat nanti Aoi-kun akan tersenyum dengan sendirinya dan tidak menjadi seseorang yang dingin lagi.” Pikirku sambil tersenyum – senyum.

            “Kamu kenapa Shiro-chan?” Tanya ibuku.

            “Aah, tidak apa – apa ibu. Aku baik – baik saja.” Ucapku dengan memberikan senyuman kepada ibuku lalu menaiki tangga menuju kamarku.

            
Back to top